Just a Thought!

Suatu hari ada teman saya berbicara mengenai isu politik yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Saya yang tidak tertarik dengan wilayah ini, ya baca sambil lalu saja. Saya gak tertarik juga untuk berdebat soal politik, agama atau hal-hal yang tidak/belum saya kuasai dengan benar. Kalo salah kan repot.

Di sederetan kalimat itu, ada satu pernyataanya yang mengusik saya. Mengenai pemahamannya pada suatu isme. Karena saya tau bahwa isme yang sedang dibicarakannya ini memang banyak ‘cabangnya’ dan deskripsinya, maka saya bilang bahwa sebenernya pengertiannya bukan begitu, tapi kalo mugkin dari buku/informasi yang dia baca memang begitu pemahamannya, ya udah gak papa. Pemahaman orang itu berbeda-beda, gak bisa dipaksa seragam.

Awalnya dia membalas dengan ketus (or was it just my interpretation, idk but it felt that way), saya lalu menjawab dengan bahasa yang biasa saja bahwa saya tidak bermaksud berdebat mengenai isi statusnya, saya hanya mau tanya soal si isme itu aja. Setelah itu dia bilang, oke mengerti lalu meminta untuk dikoreksi jika ada yang salah. Saya lalu berusaha menerangkan apa yang saya tau. Singkat cerita,  balas-balasan itu tampak baik-baik saja. Beliau tidak ketus lagi seperti di awal. Jadi yaudah saya pikir baik-baik saja.

Hari berlalu, saya gak sadar kalo ternyata saya dihapus dari list pertemanan di media sosial tersebut. No hard feeling at all. Hanya saya jadi berpikir, mungkin waktu itu saya melukainya? Tapi dia tampak baik-baik saja. Atau dia kesel sama saya sebenernya karena saya dicap ‘sok tau’? Padahal saya udah bilang juga saya gak mau komen di beberapa bagian karena memang saya gak menguasai. Cuma di satu hal kecil itu aja karena saya pernah belajar mengenai hal tersebut.

Di jaman yang super canggih ini, sebaiknya gimana sih cara menyampaikan pendapat? Apa orang cenderung lebih suka yang ‘ngotot’ daripada yang ‘diskusi’ ya? Karena walaupun diskusi, tetep aja ‘mutung’ ternyata.

Walaupun bukan teman dekat, ‘hanya’ teman sekolah yang saling kenal saja, tetapi rasanya tuh sedih ya kalo ternyata kita melukai hatinya. Atau bikin dia sebel sama kita. Perasaan paling gak enak tuh kalo saya ya, disalahartikan sama orang. Maksudnya A, diterimanya B.

Atau memang ini sudah jadi hal yang lumrah ya? Don’t dare to question me. Jadi ruang-ruang diskusi tertutup.

Tapi rasanya kemaren itu saya gak berantem loh. Atau mungkin dia males aja temenan sama saya kali ya? Karena saya pamer pamer foto masakan terus? :p

Singapore, hujan deras, iseng.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s