#MENUJU4TH Mbak L

Sebelumnya maaf ya, postingan ini adalah postingan rabid bunda :p Anakku, anakku, anakku pokoknya. Gak papa ya, menuju ulang tahun nih. Setaun sekali bikin ginian. Semoga yang diceritain di sini sesuai dengan pandangan teman-teman yang mengikuti perkembangan L. Jadi gak terlalu dibuat-buat gitu :p *Ibunya takut*

Processed with VSCOcam with g1 preset

Mbak L, sudah besar.

 

Mbak L hampir 4 tahun. Sudah banyak yang bisa dia lakukan. Dari semua perkembangannya itu justru sebenarnya yang berkembang malah Bapak dan Ibunya. Saya sih percaya banget, punya anak itu justru bikin orangtuanya banyak belajar lagi. Belajar yang gak pernah berhenti. Karena perkembangan anak dan perkembangan dunia itu gak pernah berhenti. Kan katanya, kita diminta untuk membesarkan anak sesuai dengan jamannya. Tanpa meninggalkan hal-hal yang fundamental tentu saja.

Sudah hampir 4 tahun, sudah bisa apa saja dia? Banyak.

Sejak masuk Nursery setahun lalu, perkembangan akademiknya meningkat. Alphabet dan numeric sudah lancar. Sekolah di sini, mau tidak mau memang sudah harus belajar ‘segitunya’ sejak dini. Saya gak bisa protes sama proses ini karena memang begitulah kondisinya. Alhamdulillah, ternyata L mudah belajar. Jadi tanpa saya harus ulangi belajar di rumah, dia sudah cukup lancar di dua bidang ini. Cukup dari sekolah saja. Keadaan mungkin akan berbeda ketika nanti dia mulai belajar membaca. Kalau mengajarinya belajar membaca dalam Bahasa Indonesia mungkin saya masih bisa pegang, tapi dalam Bahasa Inggris? Saya ragu. C-A-T dibaca ‘ket’ bukan ‘cat’. Saya gak mampu untuk menjabarkannya satu persatu. Maka biarlah dia belajar sebisanya di sekolah dan jika kurang, mau tidak mau ya dimasukkan les phonic. Tetapi itu pilihan terakhir sih, semoga anaknya mampu. Doain ya..

Kalau soal kreativitas sih itu biar urusan Bapaknya. Saya sadar soalnya gak sekreatif beliau, jadi kalo urusan gambar dan bikin-bikin, biasanya sama D.

Kemampuan bahasanya pun sudah sangat baik. Vocabulary nya selalu bertambah. Kami selalu berusaha memakai Bahasa Indonesia dengannya. Hanya ketika dia berbicara dan bertanya dalam Bahasa Inggris maka kami akan menjawabnya dengan Bahasa Inggris juga. Terimakasih kepada tontonan kesukaanya di televisi dan channel youtube, lingkungan sekolah dan tempatnya belajar menari (yang ternyata dia lakukan dengan serius!), kemampuan Bahasa Inggrisnya maju dengan pesat tahun ini, tanpa meninggalkan kemampuan bahasa ibunya, Bahasa Indonesia.

November lalu dia menyelesaikan Nursery nya. Laporan dari sekolahnya cukup bikin dada sesek karena bangga. Bangga sekali melihat anak yang biasa aja ini ternyata mampu melakukan hal ini itu. L tidak pernah terlihat ambisius. Dia terlihat santai pada satu hal, tetapi ternyata dia menyimpan. Sehingga ketika dihadapkan pada kasus lain, dia bisa menyambungkan pengalamannya di waktu lain dengan masalah yang dia hadapi. This is good karena berarti logikanya jalan. Ini penting sekali menurut saya. Jalan pikiran, logika dan reasoning adalah hal yang saya utamakan. Sehingga jika dia melakukan sesuatu baik atau buruk, dia selalu punya alasan yang jelas dan bisa mendeskripsikannya pada kami. Jika baik maka lanjutkan, jika keputusannya salah maka kami bertugas untuk memberikan pandangan yang lain sehingga dia bisa mengerti. Saya selalu berusaha untuk menerangkan apapun padanya. Kenapa dia tidak boleh melakukan X, kenapa dia harus Y, kenapa A itu baik dan B itu tidak baik. Coba lihat di sekeliling kita, banyak sekali orang yang logikanya mentok. Gak jalan. Ngomong ngaco. Saya gak mau L jadi orang yang kayak gitu. Mudah-mudahan hal ini bisa terus berjalan sampai dia besar sehingga dia tidak pernah merasa malu dan sungkan untuk bercerita dan berdiskusi dengan Bapak dan Ibunya. Pos kedua tempat dia mengadu, selain yang pertama kepada Tuhannya, tentu saja.

Kehidupan sosialnya agak sedikit mengkhawatirkan HAHAHA. Gurunya sampai memberikan kami hint ‘maybe because she’s the only child’. Duileh seus, kode banget nih suruh ngasih adek? Hihihi.

Untuk urusan berbagi mainan dan hal-hal kecil sehari-hari sih dia sudah bisa walau kadang susah hahaha, kemampuan untuk bersosialisasi sebenarnya menigkat dari awal tahun. Tetapi masih ‘anak kecil banget’ katanya. Ya dimaklumi juga karena di kelasnya dia paling kecil. Dengan awal tahun ajaran yang jatuh pada awal tahun, membuat L selalu menjadi murid paling kecil di kelasnya. Pesan gurunya sih supaya L banyak main dengan anak-anak sebaya dan lebih kecil dari dia. Agak susah sebetulnya karena tetangga tidak ada yang kecil (ada sih keluarga India yang punya dua anak kecil sebelah rumah, tetapi sudah pindah juga). Teman-teman yang paling dekat dengannya hanyalah anak dari teman-teman kami di sini. Bertemunya juga tidak setiap hari. Tapi itu cukuplah untuk membuatnya membangun pertemanan. Well, let’s work on this matter lah. Tapi pilihan untuk menambah momongan memang belum masuk ke rencana kami. Banyak sekali pertimbangannya. Kami tidak mau terburu-buru memutuskan hal sepenting ‘punya anak lagi’. Gak main-main loh itu :p

Dengan kondisi kami yang hidup tanpa maid mau gak mau saya juga harus mengajarkannya untuk disiplin. Sejauh ini sudah berhasil. Pulang sekolah dia tahu harus melepas bajunya, pipis, cuci tangan dan kaki lalu ganti baju sendiri. Dia tahu dimana harus meletakkan sepatu dan baju kotornya. Dia tahu dimana dia menunggu makanan untuk dihidangkan. Setelah selesai makan, dia akan bermain sebentar atau menonton tv kemudian tidur siang.

Begitu juga dengan mainan. Saya gak suka melihat sesuatu yang berantakan. Sehingga saya selalu bilang ke dia kalau dia harus membereskan mainannya sendiri ketika selesai main. And it works. Gak susah sebenernya, cuma perlu dikasih tau aja kalo berantakan dia akan kesulitan mencari mainannya kalau dia ingin main lagi. Dia juga tahu bahwa menggambar itu di buku gambar, di kertas bukan di tembok. Sehingga saya gak khawatir tembok kotor. Susah juga bok kalo kotor, tembok rumah orang soalnya kan :p

Lucunya, kalo lagi pulang kampung, dia seakan tau kalau banyak yang memanjakannya. Jadi soal makan, minum dan mainan mintanya ditemenin terus. Entah dengan mbak Lilik, Oma dan Uti atau Kakungnya. Ya gak papa lah, asal kalo pas udah balik kesini lagi ya balik lagi ke hal yang biasa dia lakukan. Dan terbukti memang selalu begitu, jadi saya gak perlu khawatir kalo dia mendapat perlakuan istimewa ketika pulang kampung. Tinggal matikan setelan ‘pulang kampung’ and here she is back to her routine.

Potty training? Sukses tanpa drama yang berarti. Ketika mulai sekolah dulu, pelan-pelan saya mulai lepas diapernya. Ternyata tanpa ada drama, dia bisa menyesuaikan. Saya ingat sih beberapa kali kelepasan pipis di celana ketika di rumah, tapi bisa dihitung dengan jari. Tapi memang belum full, karena kalo tidur masih pake diaper. L masih minum susu menggunakan dot ketika mau tidur. Sepertinya dia hanya mencari kenyamanan pengantar tidurnya. Biasanya sampai 2 botol sebelum tidur siang dan tidur malam. Sehingga agak sulit memang melepas diapernya karena dia pasti akan pipis di tengah-tengah tidurnya dan belum bisa sadar betul untuk bangun dan pergi ke kamar mandi. Beberapa kali berhasil tetap banyak kali gagal. Jadi yaudah saya santai aja. Saya tunggu sampai dia siap sendiri. Eh entah dua bulan lalu, dia tiba-tiba mau minum susu pake gelas saja. Memang sih, setiap malam saya selalu bercerita kalau anak yang udah K1 (setara TK), sudah gak minum pakai botol lagi. Botol hanya untuk bayi saja. Mungkin karena itu pula dia tersugesti. Beberapa kali minum susu dengan gelas, sekarang dia sama sekali gak pernah minum susu lagi sebelum tidur. Dengan sadar dia bilang ‘I’m not baby anymore, mum. I want to wear my pants not diapers’. HORE! Selesai deh tugas per potty an ini. Smooth sekali. Kantong juga smooth karena pos dana susu dan diaper (yang astaga harganya mahal banget di sini) jadi bisa dialihkan ke pos yang lain. Pos beli listik, mungkin? *mulai*.

Kami sangat beruntung dengan L yang ‘mudah’. Dia mudah sekali dibikin senang. Dia sering menolak dibelikan mainan dengan alasan ‘kan sudah punya mainan di rumah’, padahal mainannya hanya bonus-bonus dari majalah :p Kadang pilihan mainannya ajaib. Dia harus selalu memegang sesuatu. Dan itu berganti-ganti beberapa waktu sekali. Kadang sendok, kadang penyiram tanaman, kadang pensil, kadang boneka dan lain-lain.

Mainan yang dipegang dan dibawa kemana-mana: sisir.

Mainan yang dipegang dan dibawa kemana-mana: sisir.

Dia tau kalau main iPad hanya di weekend saja. Jadi ketika selain weekend saya memperbolehkannya bermain iPad (seperti sekarang misalnya, sedang libur sekolah), dia akan bertanya ‘why can we play ipad?’ yang kemudian harus saya jawab ‘because it’s a holiday, but you only have 10 mins to play‘. Lalu dia akan memilih sendiri mau main apa selama 10 menit itu. Paling sering sih nonton My Little Pony, main Osmo, Puzzle atau Two Dots. Tapi kadang 5 menit juga dia sudah bosan. Jadi saya gak terlalu kaku banget sama peraturan ini. Sewajarnya aja, anak perlu dikenalkan dengan teknologi, tapi ya jangan berlebihan. Sesuaiin aja sama umurnya. Dan tentu aja, diawasi.

Dia juga mudah sekali diajak berdiskusi dan bekerjasama. Saya sampai kadang malu sendiri. Dia nurut sekali, soalnya.

Tapi ya namanya anak-anak, kadang juga suka bandel. L adalah anak yang penuh dengan gengsi. Misal, dia tau dia salah, dia tau dia harus minta maaf, tapi dia tidak minta maaf right away. Dia ngambek dulu dan beraaat sekali untuk minta maaf. Gengsian ini juga terjadi ketika dia senang. Misal; dia ingin naik odong-odong, itu loh permainan yang pakai koin di mal. Ketika kami perbolehkan, dia akan senang. Tapi senyumnya ditahan-tahan. Jadi senang tapi gak mau keliatan senang. Ini persis Ibunya sih HAHAHAHA. Gengsian bok!

L juga suka protes jika sesuatu tidak pada tempatnya atau tidak seharusnya. Kalau tidur, dia tahu lampu harus dimatikan, lampu kecil dinyalakan, Bapak harus keluar. Dan harus sudah mandi! Kalau tidak mandi dulu dia akan nagih. Kalau dipaksakan tidak mandi sebelum tidur, pasti tidurnya gak nyenyak. Pernah soalnya, malem-malem musti bangun lagi dan mandi dulu baru lanjutin tidur. Ini juga tentu saja nurun Ibunya. Bapaknya? Kayaknya kalo dulu gak kawin sama saya dia masih meneruskan kebiasaanya yang gak pernah mandi itu deh. Untung kawin sama saya ya Pak, jadi wangi :p

Kebiasaan protes ini juga berlaku kalo kami lupa bilang terimakasih, lupa ngunci pintu mobil, kalo kami tidak mendengarkannya, dll dll. Kid copies your attitude, ini bener banget.

L juga jutek. Dia tidak seramah anak lainnya. Dia tidak bisa cepat berteman tapi dia bisa baik sekali dengan teman yang dia suka. Kalau di tempat baru dengan teman baru, ya wasalam deh. Diem, jutek. Tapi kalo udah kenal sih ya rusuh juga. Nurun siapa? Ibunya, lagi. Jadi kalo dibikin summary, anak ini boleh plek ketiplek sama Bapak, tapi kelakuan? Ibu semua HAHAHAHA.

Tapi saya gak mau L nurunin sifat saya semua. Saya juga mau L menjadi seperti D. Yang bisa diandalkan, yang sabar, yang selalu penuh cinta, selalu menyapa istrinya dengan senyum, walopun istrinya lagi cemberut cuma karena cucian gak abis-abis. I love you lho, Pak ❤

IMG_1063

Minta dipeluk Bapak sebelum pentas balet pertamanya.

 

Terimakasih ya untuk terus bersama-sama menjalani kehidupan ini. Ups and downs. Mengurus rumah bersama-sama. Mengurus L bersama-sama. Saya yakin, kamu juga tidak mau ketinggalan satu momen pun perkambangannya.

Semoga kita tidak menjadi orangtua yang menyesal di kemudian hari karena merasa kehilangan masa-masa pertumbuhan anak. Semoga banyak keajaiban-keajaiban di depan sana. Mudah-mudahan impian kita diberikan jalan. Dijadikan kenyataan.

Peluk sayang,

Ibu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s